Langsung ke konten utama

Sesuai Kesanggupanmu dalam Berkarya

Sesuai Kesanggupanmu dalam Berkarya


Yang sekarang bisa dilakukan oleh setiap manusia--dan Allah mengatakan--la yukallifullah nafsan illa wush'ahaAllah tidak menagih di luar kemampuanmu, di luar kapasitasmu. Maka, tidak penting apakah anda berenang di lautan yang airnya bernajis. Nilainya tidak terletak bahwa anda kena najis, yang lebih penting adalah, apakah anda terus berenang ke tengah lautan najis atau anda berenang ke pinggir mencoba untuk menghindarinya. Mungkin sampai mati anda tidak pernah bisa sampai ke pantai yang bebas dari najis. Tapi Allah melihat usaha anda untuk menghindari najis, menurut saya itulah nilainya. Yang penting, dalam keadaan apapun, hujan atau kemarau, ekonomi sedang krisis atau sejahtera, gelap atau terang, tetap berlaku baik, tetap berlaku lembut, tetap berlaku penuh kasih sayang, tetap berlaku untuk menciptakan keseimbangan, dan tetap membuat karya yang kamu sanggup melakukan. Jika kita mengikuti Sunatullah dalam berkarya, proses kita dengan cara yang benar, walaupun kamu mati belum mencapai karyamu, pasti Allah menilai usahamu yang kau lakukan dalam kesungguhan. 

Mengambil makna Silmi dalam Al Baqarah ayat 208, Silmi, menurut cak Fuad bisa diartikan dalam kedamaian, ketaatan, dan juga Islam. Adapun makna Islam dari Silmi lebih cenderung kepada isinya atau substansinya. Bukan sekedar kulitnya atau strukturnya saja atau teksnya. Selain itu, Cak Fuad lebih lanjut menegaskan bahwa udkhuluu fissilmi kaffah di sini juga mengandung arti jamii'an, bersama - sama. Kita dianjurkan untuk menuju Silmi  secara bersama - sama. Mencari keselamatan bersama - sama, menuju ketaatan bersama - sama, jadikan dalam berkarya sebagai ketaatan kepada Allah, sehingga dalam berkarya pun kita tetap bersama - sama. Tidak hanya memikirkan keselamatan, ketaatan, berkarya seorang diri. Karena sejatinya berkarya itu berat, namun dilakukan dengan bersama - sama, saling menguatkan, saling menyemangati akan terasa ringan, Bismillah.

Berbicara "Kaffah(menyeluruh)" Cak Fuad memberikan penjelasan lebih jauh. Sebagai manusia, orang tentu terbatas kemampuannya. Dan akan sangat kesulitan jika harus mengamalkan semua nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam. Menyikapi hal ini, Cak Fuad pun membacakan dua ayat yang sekilas terlihat bertentangan. Meskipun sebenarnya, kedua ayat ini tidaklah bertentangan. Hanya berbeda konteksnya saja. Salah satu ayat menyerukan agar kita bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa (QS Ali Imran: 102). Sedangkan ayat lain memberikan  kelonggaran, bahwa kita diperkenankan bertakwa sesuai batas kemampuan kita (QS Taghobun: 16). Lantas, bagaimana sebenarnya maksud dari kedua ayat tersebut?

Menurut penjelasan Cak Fuad, perintah bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa itu berlaku secara teoretis. “Sebuah keharusan secara teoretis.” Tetapi, dalam penerapannya, kita diberikan kelonggaran sesuai dengan  batas kemampuan kita masing-masing. Mengingat kemampuan kita sebagai manusia sangatlah terbatas. Dan akan sangat kesulitan jika kita menjangkau semua nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam. Karena Islam tidak hanya membahas Ritual, namun di dalamnya terdapat Sosial, Negara, Hukum dan banyak lagi.

Seorang muslim, jika ingin total mengamalkan keislamannya, pilih sektor atau bagian yang cocok untuk dirinya. Sesuai dengan kemampuan-kemampuan, kesiapan-kesiapan, dan kondisi situasi yang dihadapi.” Begitu Cak Fuad meneruskan penjelasannya. Dengan kata lain, setiap orang mempunyai ibadahnya masing-masing. Sesuai tempat dan juga kemampuannya. Dan tidak perlu dipaksakan sama. Ibadah mahdhoh itu pasti, sedangkan yang muamalah disesuaikan dengan posisi dan porsi masing-masing pribadi.

Jadi, silahkan anda pilih dalam berkarya sebagai ketaatan kepada Allah yang ditugaskan menjadi Khalifah Fi al-Ardh sesuai dengan porsimu, sesuai dengan kemampuanmu, jangan memaksa, pilih dibidang mana yang kamu bisa, sesuaikan dengan minat dan bakatmu, apapun bidang yang kamu pilih, yang penting kamu bisa bermanfaat untuk orang banyak, nilainya sangat besar dihadapan Allah. Jangan pernah berpikir bahwa mereka yang berceramah, yang berdakwah itu manfaatnya besar, sehingga kamu iri dan tidak mampu melakukannya dan kamu memaksakan diri yang jadinya kemudharatan, tapi berfikirlah “Apakah karya saya bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain ataukah hanya mendatangkan mudharat ke orang lain? Di situ nilainya, disitulah Fi Silmi Kaffah.




Sumber

Emha Ainun Nadjib, Allah Tidak Cerewet Seperti Kita. Jakarta: Penerbit Noura Books.

https://www.caknun.com/


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maktabah Syamilah: Download dan Cara Install

  Maktabah Syamilah: Download dan Cara Install     Sesuai dengan namanya, maktabah artinya perpustakaan. Syamilah artinya lengkap. Dengan kata lain, Maktabah Syamilah ini semacam perpustakaan digital islami (Islamic Digital Library). Aplikasi kumpulan kitab lengkap, kitab-kitab terkumpul menjadi satu dalam software ini. Muassasah al-Maktabah asy-Syamilah mulai mengembangkan perpustakaan digital Maktabah Syamilah ini pada bulan April 2005. Al-Maktabah asy-Syamilah ini disinyalir sebagai aplikasi kitab kuning terbaik hingga saat ini. Menariknya, aplikasi kitab kuning digital ini dapat didownload secara GRATIS di website resminya, shamela.ws.( https://www.dakwah.id/gratis-download-maktabah-syamilah-terbaru-update-oktober-2020/ ) Maktabah Syamilah sudah sangat dikenal di kalangan pesantren, akademisi dan cendekiawan muslim karena dalam software ini tergabung beragam kitab ulama islam klasik dan kontemporer disusun perkategori: 1.      Kitab...

Sikap Moderasi dalam Kehidupan Bernegara

  Sikap Moderasi dalam Kehidupan Bernegara   Kita tahu sendiri, sebagai orang Indonesia yang beragama Islam, kita harus bersikap moderasi dalam kehidupan kita. Indonesia merupakan negara yang majemuk, negara yang isinya berbagai suku, berbagai Agama, berbagai ras, berbagai bahasa, berbagai adat dan budaya, Indonesia itu beragam, tidak hanya condong ke salah satu saja. Sikap moderasi lah yang tepat dalam bersikap bagi Muslim dalam berkehidupan di Indonesia ini. Apa itu moderasi ? Bagaimana langkah penerapannya ? Yuk disimak pemabahasannya. Moderasi memiliki makna pilihan dalam cara pandang, sikap dan perilaku yang tengah-tengah di antara berbagai pilihan, selalu bertindak adil, seimbang, tidak ekstrim dan berlebihan dalam beragama. Moderasi merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan dalam beragama (Riski Gunawan, dalam Talk show Moderasi Beragama ). Umat Islam itu merupakan umat yang tengah, umat yang wasathiyyah sebagaimana dalam firman Allah yang berada di teng...