Langsung ke konten utama

Sikap Moderasi dalam Kehidupan Bernegara

 Sikap Moderasi dalam Kehidupan Bernegara

 



Kita tahu sendiri, sebagai orang Indonesia yang beragama Islam, kita harus bersikap moderasi dalam kehidupan kita. Indonesia merupakan negara yang majemuk, negara yang isinya berbagai suku, berbagai Agama, berbagai ras, berbagai bahasa, berbagai adat dan budaya, Indonesia itu beragam, tidak hanya condong ke salah satu saja. Sikap moderasi lah yang tepat dalam bersikap bagi Muslim dalam berkehidupan di Indonesia ini. Apa itu moderasi ? Bagaimana langkah penerapannya ? Yuk disimak pemabahasannya.

Moderasi memiliki makna pilihan dalam cara pandang, sikap dan perilaku yang tengah-tengah di antara berbagai pilihan, selalu bertindak adil, seimbang, tidak ekstrim dan berlebihan dalam beragama. Moderasi merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan dalam beragama (Riski Gunawan, dalam Talk show Moderasi Beragama). Umat Islam itu merupakan umat yang tengah, umat yang wasathiyyah sebagaimana dalam firman Allah yang berada di tengah-tengah surat Al-Baqarah, yaitu ayat 143:

“Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.........” (QS Al-Baqarah: 143).

Makna Wasath memiliki beberapa arti, yaitu

1.      “sesuatu yang memiliki dua belah ujung yang ukurannya sebanding atau sesuatu yang terjaga, berharga dan terpilih” (Mufradat al-Fadh Al-Qur’an Raghib Al-Ishfani).

2.      Adil, Ummatan wasathan adalah umat yang adil, umat yang mampu menempatkan sesuatu sesuai porsinya, sesuai tempatnya, sehingga tepat dalam bertindak, dan mengambil keputusan.

3.      Pilihan, “kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan ke tengah manusia...” (QS Ali Imran: 110).

4.      Diantara dua hal, orang-orang yang beragama berada di tengah-tengah antara Ifrath (berlebihan-lebihan hingga mengadakan yang baru dalam beragama) dan Tafrith (mengurang-ngurangi ajaran agama).

Indonesia merupakan negara yang beragam, yang majemuk, plural, tidak hanya Islam saja, namun ada agama yang lain, yang tinggal di Indonesia ini. Berbicara soal kemajemukan, kemajemukan merupakan suatu hal yang fitrah, majemuk itu merupakan Sunnatullah, sebuah ketetapan hukum Allah yang tidak bisa kita hindarkan. Allah sudah memberi tahu kita masalah kemajmukan ini, dalam Qur’an yang artinya:

“wahai manusia! Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kamu jadikan kamu berbangsa-bangsa, bersuku-suku, agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.(QS Al-Hujurat: 13). 

Allah menciptakan kemajmukan itu agar saling mengenal. Dalam hal kehidupan bernegara ini, walaupun berbeda-beda dalam hal keyakinan, suku, bangsa, adat, budaya, pemikiran, minat, bakat, kita harus saling mengenal, dengan mengenal kita akan mengalami hubungan yang baik, hubungan yang harmonis antar warga negara, hubungan timbal balik yang sehat, bermuamalah, saling bekerja sama, saling bersinergi dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik lagi, sebagai bentuk pengabdian kita kepada Allah, Tuhan yang menciptakan kita. 

Kemajemukan itu merupakan Rahmatan Lil’alamiin jika kita bisa mengolahnya dengan baik. Rahmat berarti sebuah perdamaian, keberkahan, kenyamanan, aman dan kondusif tanpa ada kerusuhan atau kemudhorotan bagi alam kita, bagi tempat tinggal kita, sekitar kita. Sebagai Muslim, seharusnya mampu menciptakan hal itu, jangan sampai sebaliknya. Yang perlu diingat, kita ini warga Indonesia yang beragama Islam, yang mengharuskan kita menjaga rumah kita bersama yaitu Indonesia, menjaga perdamaian, kenyamanan, keamanan, maslahat bagi Alam Indonesia, itulah makna Rahmatan Lil’alamiin.

Sikap moderasi inilah yang harus kita miliki sebagai Muslim di Indonesia yang majemuk ini. Kita menghargai agama lain, memberikan rasa aman dalam menjalankan agamanya tanpa ada rasa takut, memiliki moral kemanusiaan, tidak boleh membeda-bedakan sesama, memiliki sikap persatuan dan kesatuan demi terwujudnya perdamaian abadi, kita saling mengenal, saling musyawarah antar sesama dalam hal kebaikan, dan mampu menegakkan keadilan ke sesama tanpa memandang apapun. Hal ini tertuang dalam Pancasila.

Pancasila itu tidak bertentangan dengan Al-Quran, Pancasila itu merupakan implementasi dari bersatunya sikap nasionalisme dan religius, merupakan nilai-nilai substansi Islam yang di aplikasikan sebagai Dasar Negara Indonesia bagi rakyat Indonesia. Jadi, Pancasila itu merupakan dasar negara yang tepat, Pancasila itu bukan menjadi lawannya Al-Qur’an, bukanlah thagut yang selalu dibicarkan “sebagian orang” tapi Pancasila itu merupakan aplikasi dari nilai-nilai Qur’an, sebagai Muslim seharusnya bisa berfikir lebih kritis, rasional, agar kita terhindar dari narasi-narasi Radikal, yang membuat kerusuhan dan kemudharatan di Indonesia ini. 

Moderasi juga mengajarkan arti toleransi antar agama lainnya. Kita menghargai adanya agama selain Islam, memberikan kenyamanan dalam menjalankan agamanya, menjalankan ibadahnya, bukannya memaksa mereka masuk Islam, apalagi dengan tindakan kekerasan atas nama Agama, itu tidak boleh dan Islam tak mengajarkan hal itu. Toleransi beragama hanya sebatas dalam hal-hal muamalah, seperti membantu perayaan umat non Muslim, menjaga keamanan acaranya, dan sebagainya, namun dalam hal aqidah, dalam hal mengikuti proses ibadahnya, kita tidak diperkenankan. Karena Untukmu Agamamu, Untukku Agamaku (QS Al-Kafirun: 6).

Jadi, kita sebagai orang Indonesia yang Muslim, selayaknya memiliki sikap yang moderasi, karena kita hidup dalam kemajemukan, tak hanya itu, dalam Al-Quran pun disinggung mengenai moderasi dengan diksi Ummatan Wasathan. Yang penting, dalam kemajemukan ini, kita bisa saling mengenal, saling bekerja sama, saling bersinergi, berjuang dalam bidang kita, untuk Indonesia ini, sebagai bentuk rasa syukur dan pengabdian kita kepada Sang Maha Pencipta dan mampu menjadi kemajemukan itu Rahmatan Lil’alamiin.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maktabah Syamilah: Download dan Cara Install

  Maktabah Syamilah: Download dan Cara Install     Sesuai dengan namanya, maktabah artinya perpustakaan. Syamilah artinya lengkap. Dengan kata lain, Maktabah Syamilah ini semacam perpustakaan digital islami (Islamic Digital Library). Aplikasi kumpulan kitab lengkap, kitab-kitab terkumpul menjadi satu dalam software ini. Muassasah al-Maktabah asy-Syamilah mulai mengembangkan perpustakaan digital Maktabah Syamilah ini pada bulan April 2005. Al-Maktabah asy-Syamilah ini disinyalir sebagai aplikasi kitab kuning terbaik hingga saat ini. Menariknya, aplikasi kitab kuning digital ini dapat didownload secara GRATIS di website resminya, shamela.ws.( https://www.dakwah.id/gratis-download-maktabah-syamilah-terbaru-update-oktober-2020/ ) Maktabah Syamilah sudah sangat dikenal di kalangan pesantren, akademisi dan cendekiawan muslim karena dalam software ini tergabung beragam kitab ulama islam klasik dan kontemporer disusun perkategori: 1.      Kitab...

Sesuai Kesanggupanmu dalam Berkarya

Sesuai Kesanggupanmu dalam Berkarya Yang sekarang bisa dilakukan oleh setiap manusia--dan Allah mengatakan-- la yukallifullah nafsan illa wush'aha .  Allah tidak menagih di luar kemampuanmu, di luar kapasitasmu. Maka, tidak penting apakah anda berenang di lautan yang airnya bernajis. Nilainya tidak terletak bahwa anda kena najis, yang lebih penting adalah, apakah anda terus berenang ke tengah lautan najis atau anda berenang ke pinggir mencoba untuk menghindarinya. Mungkin sampai mati anda tidak pernah bisa sampai ke pantai yang bebas dari najis. Tapi Allah melihat usaha anda untuk menghindari najis, menurut saya itulah nilainya. Yang penting, dalam keadaan apapun, hujan atau kemarau, ekonomi sedang krisis atau sejahtera, gelap atau terang, tetap berlaku baik, tetap berlaku lembut, tetap berlaku penuh kasih sayang, tetap berlaku untuk menciptakan keseimbangan, dan tetap membuat karya yang kamu sanggup melakukan. Jika kita mengikuti  Sunatullah  dalam berkarya, proses kita ...