Benci, Tetapi Tetap Adil: PESAN LANGIT!
Kali ini,kami membahas mengenai pesan langit,
pesan yang sangat sulit di lakukan, apa itu ? Benci, tetapi tetap adil. Luar
biasa bukan ? Jika masih bingung maksudnya apa, kami akan kasih contoh simple,
misalnya kamu menjadi saksi, menentukan suatu pihak, mana yang benar dan salah,
yang kamu saksikan itu ada teman kamu yang seagama dengan kamu, dan teman dekat
kamu dan juga ada orang yang kamu benci serta beda agama dengan kamu, namun
orang yang kamu benci ini adalah orang yang benar, maka kamu harus berlaku
adil, kamu bersaksi bahwa orang yang kamu benci itu adalah yang benar, walaupun
kebencian kamu Sudah mencapai ubun-ubun (Al-baghd Al-Syadid). Bagaimana? Sulit
bukan untuk menerapkan nya ? Kuy langsung aja simak pembahasan lainnya di bawah
ini, semoga kalian lebih mengerti lagi dan bermanfaat.
Salah satu hal yang membuat saya kukuh
mengimani bahwa Al Qur'an itu bukan buatan manusia, melainkan merupakan pesan
ilahi yang kandungan ayatnya menembus batas kemanusiaan kita dan melintasi
zaman. 15 abad lampau, bahkan hingga kini, masih banyak di antara kita yang
tidak fair dan tidak adil bersikap hanya karena kita membenci suatu kelompok
atau individu tertentu. Namun, pesan Al-Qur'an begitu dahsyat menembus
stereotyping akan pihak lain: boleh tidak suka terhadap perbuatan mereka,
tetapi tetap harus berlaku adil kepada mereka.
Surah
Al-Ma'idah turun pada tahun ke-8 Hijriah setelah Perjanjian Hudaibiyah yang
berlangsung pada tahun ke-6 Hijiriah. Dalam peristiwa Hudaibiyah, rombongan
Rasulullah Saw. yang hendak pergi ke Baitullah dihalangi memasuki Kota Mekkah.
Singkat cerita, ada rasa dendam dan kebencian di kalangan sebagian pihak atas
peristiwa itu: dahulu mereka halangi kita, sekarang kita pun bisa menghalangi
mereka maka turunlah petikan Surah Al-Ma'idah ayat 2:
Dan jangan sekali-kali kebencian (kalian)
kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kalian dari Masjidilharam,
mendorong kalian berbuat aniaya (kepada mereka).
Tafsir Ibn Katsir menjelaskan petikan ayat
ini:
"Jangan
sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum yang dahulunya pernah
menghalang-halangi kalian untuk sampai ke Masjidilharam yang terjadi pada tahun
Perjanjian Hudaibiyah mendorong kalian melanggar hukum Allah terhadap mereka.
Lalu, kalian mengadakan balas dendam terhadap mereka secara aniaya dan
permusuhan. Namun, kalian harus tetap memutuskan apa yang diperintahkan oleh
Allah kepada kalian, yaitu bersikap adil dalam perkara yang hak terhadap siapa
pun."
Luar biasa bukan pesan Ilahi ini ? Bahkan,
kita harus berlaku adil terhadap mereka yang pernah menghalangi kita memasuki
Baitullah. Tafsir Al-Misbah menyebutkan riwayat lain dikisahkan bahwa
larangan ini turun berkenaan dengan rencana merampas unta yang dibawa rombongan
Yamamah di bawah pimpinan Syuraih bin Dhubai'iah Al-Hutham yang menuju
Baitullah dengan alasan unta-unta itu dahulu milik umat Islam yang dirampas
mereka. Ayat di atas turun melarang umat Islam berbuat kezaliman yang sama.
Kata "Syana-an"
dalam ayat di atas itu maknanya "Al-baghd Al-syadid", yaitu
kebencian yang telah mencapai puncaknya. Musuh yang sudah kita benci sampai ke
ubun-ubun lantaran menghalangi pelaksanaan agama, masih harus kita perlakukan
secara adil. Kita dilarang berbuat zalim kepada mereka. Ini pesan keadilan dari
langit!
Ketentuan membolehkan kaum Musyrikin memasuk
Baitullah itu kemudian dihapus pada tahun ke-9 Hijriah saat turun Surah
At-Taubah ayat 28: "Jangan mereka (orang musyrik) mendekati Masjidil Haram
sesudah tahun ini." Walaupun demikian, pesan Ilahi untuk berbuat adil
tetaplah abadi.
Ibn Katsir mengutip pernyataan sebagian ulama
salaf sebagai berikut.
"Selama
kamu memberlakukan orang yang durhaka kepada Allah terhadap dirimu dengan sikap
berdasarkan taat kepada Allah dan selalu berlaku adil dalam menanganinya,
niscaya langit dan bumi ini masih akan tetap tegak."
Pesan keadilan di atas begitu pentingnya
sehingga ditegaskan kembali dalam ayat 8:
Dan janganlah
sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk
berlaku tidak adil. Berlaku adil lah karena adil itu lebih dekat pada takwa.
Kebencian itu tidak menjadi alasan pembenar untuk bisa menzalimi
pihak lain. Kita tidak boleh keluar dari aturan main dan tidak boleh membalas
kezaliman di luar batas-batas keadilan dan hukum. Syekh Wahbah Al-Zuhaili dalam
Tafsir Al-Munir menegaskan:
"Kekufuran orang kafir itu tidak menghalangi kita berbuat adil
dalam berinteraksi dengan mereka. Dalam ayat perintah untuk berbuat adil dan
takwa ada petunjuk untuk membuat batasan dalam pertempuran, misalnya, mereka
membunuh para wanita kita dan anak-anak kita, maka kita tidak dibenarkan
melakukan pembunuhan yang serupa."
Bahkan, dalam pertempuran pun ada seperangkat etika dan aturan yang
harus ditaati tentara Muslim. Kebencian tidak dibalas dengan kebencian.
Kezaliman tidak dihapus dengan kezaliman lainnya. Dalam keadilan, bukan saja
ada kasih sayang, melainkan juga ada ketakwaan.
Majallat Al-Ahkam Al-Adillah yang merupakan kitab undang-undang
hukum perdata Islam pertama yang dikodifikasi pada tahun 1293 H/1876 M oleh
pemerintah Turki Utsmani, memuat ketentuan nomor 921 yang berdasarkan prinsip
ayat di atas:
"Tidak dibolehkan bagi orang yang dizalimi untuk menzalimi
orang lain karena itu termasuk salah satu bentuk kezaliman. Misalnya, jika Zaid
merusak harta Amru, lalu Amru membalas merusak harta Zaid, maka keduanya
dihukum untuk membayar ganti rugi. Begitu pula jika ada yang ditipu yang
dagangannya dibayar dengan uang palsu, maka dia tidak boleh menggunakan uang
palsu untuk transaksi dengan pihak lain."
Keadilan itu salah satu prinsip utama dalam ajaran Islam. Meski Kita dirugikan, dizalimi dan dianiaya sehingga membuat kita
sangat benci kepada orang tersebut, baik orang Islam maupun non-Muslim, kita
tidak boleh membalas kezaliman dengan kezaliman kepada orang tersebut ataupun
kepada pihak ketiga. Kita tetap harus berbuat adil dan mengikuti proses hukum yang berlaku.
Kita boleh saja membenci perbuatan mereka,
keluarga mereka, serta harta dan kedudukan mereka. Ini pesan langit yang
melintasi zaman, yang hanya bisa diterapkan oleh mereka yang diajarkan untuk
menebar Rahmat pada semesta. SAYA, ANDA dan KITAKAH itu ?
__________________________________
Di ambil dari Tafsir
Al-Qur'an di Medsos, karya dari prof. Nadirsyah Hosen atau akrab disapa Gus
Nadir.
Komentar
Posting Komentar